Belajar dari Jabalsari, Ketika Data dan Kerja Bersama Menjadi Kunci Percepatan Penurunan Stunting
Tulungagung - Menurunkan angka stunting bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kegiatan. Ia membutuhkan data yang akurat, pendampingan yang konsisten, keterlibatan masyarakat, serta kerja bersama lintas sektor yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Praktik itulah yang terlihat di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol,
Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Desa yang pernah meraih Peringkat 1 Desa
Berkinerja Baik Regional 1 pada Lomba Desa Berkinerja Baik dalam Percepatan
Penurunan Stunting Tingkat Nasional 2025 tersebut kini menjadi lokasi
pendokumentasian praktik baik konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan
stunting.
Pendokumentasian Praktik Baik Konvergensi Pencegahan dan Percepatan
Penurunan Stunting (P3S) di Desa Tahun Anggaran 2026 dilaksanakan pada 30
September 2026 oleh Direktorat Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa
dan Perdesaan, Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan.
Jabalsari dipilih karena memiliki pengalaman yang dinilai dapat menjadi
pembelajaran bagi desa lain. Desa ini mengembangkan GERDU JEMPOLSARI, akronim
dari Gerakan Terpadu Jabalsari Eliminasi Masalah Stunting dengan Pola
Konvergensi Lokal, Sinergi Aktif Responsif Integratif.
Melalui pendekatan tersebut, penanganan stunting tidak ditempatkan sebagai
pekerjaan satu institusi. Pemerintah desa membangun keterhubungan antara kader,
TP PKK, tenaga kesehatan, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), perangkat
daerah, serta unsur masyarakat lainnya.
Hasilnya terlihat dari perkembangan angka stunting di desa tersebut. Data
yang dipaparkan dalam kegiatan menunjukkan angka stunting Jabalsari yang berada
pada 5,83 persen pada 2023 turun menjadi sekitar 1,57 persen pada 2025. Secara
keseluruhan, capaian tersebut menunjukkan perubahan yang signifikan
dibandingkan kondisi sebelumnya.
Mengawal dari Dekat, Bukan Sekadar Mencatat Data
Di balik data dan capaian tersebut terdapat kerja kader yang berlangsung
langsung di tengah masyarakat.
Salah satunya dilakukan Nanik Masruroh, Kader Pembangunan Manusia (KPM)
Desa Jabalsari. Perannya tidak berhenti pada pencatatan atau pelaporan, tetapi
juga ikut mengawal program dan mendampingi masyarakat, terutama dalam
memastikan keluarga sasaran memperoleh perhatian dan intervensi yang dibutuhkan.
Menurut Nanik, pendampingan harus dilakukan dengan pendekatan yang dekat
dengan masyarakat. Kader perlu mengetahui kondisi keluarga secara nyata
sehingga persoalan yang ditemukan tidak berhenti sebagai data, tetapi dapat
segera dikoordinasikan untuk mendapatkan tindak lanjut.
“Kader itu bukan hanya mencatat data. Kami juga harus turun, melihat
kondisi masyarakat, mendampingi keluarga, dan memastikan ketika ada persoalan
bisa segera dikoordinasikan. Jadi data yang kami dapatkan benar-benar menjadi
dasar untuk menentukan apa yang harus dilakukan.”
Bagi Nanik, keberhasilan penurunan stunting tidak dapat dilepaskan dari
keterlibatan keluarga dan masyarakat.
“Kami terus mengajak masyarakat agar memahami bahwa pencegahan stunting
bukan hanya tanggung jawab kader atau pemerintah desa. Orang tua dan keluarga
juga memiliki peran yang sangat penting. Karena itu, pendampingan harus
dilakukan dengan komunikasi yang baik dan terus-menerus.”
Pendekatan semacam inilah yang membuat konvergensi di tingkat desa tidak
berhenti pada rapat koordinasi dan dokumen perencanaan. Ada proses untuk
memastikan kebijakan benar-benar sampai kepada keluarga yang menjadi sasaran.
GERDU JEMPOLSARI: Menyatukan Banyak Peran
Dalam proses pendokumentasian, Tim Penilai juga menggali lebih jauh proses yang berlangsung di Desa Jabalsari melalui presentasi dan sesi tanya jawab bersama Tim Inovasi GERDU JEMPOLSARI. Forum tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya DPMD, Dinas Kesehatan, KB PPPA, BPKAD, TPPS, TP PKK, dan Pemerintah Desa Jabalsari.
Kepala Desa Jabalsari, Mahmudi, mengatakan bahwa keberhasilan penanganan stunting merupakan hasil kerja bersama. Pemerintah desa, menurutnya, tidak mungkin bekerja sendiri tanpa dukungan kader, masyarakat dan lintas sektor.
“Bagi kami, stunting bukan hanya urusan pemerintah desa atau kader. Ini
tanggung jawab bersama. Yang paling penting adalah bagaimana semua pihak
bekerja dengan data yang sama, memahami persoalan yang ada, kemudian bergerak
bersama memberikan intervensi kepada keluarga yang membutuhkan.”
“Kami ingin apa yang dilakukan di Jabalsari tidak berhenti sebagai prestasi
desa. Kalau ada hal baik yang bisa dipelajari dan disesuaikan oleh desa lain,
kami sangat terbuka. Setiap desa memiliki kondisi yang berbeda, tetapi semangat
untuk menggunakan data, melibatkan masyarakat dan membangun kerja bersama bisa
diterapkan di desa mana pun.”
Praktik Baik untuk Dipelajari, Bukan Sekadar Ditiru
Pendokumentasian di Jabalsari pada akhirnya bukan hanya tentang merekam
keberhasilan sebuah desa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya untuk
menangkap proses, pendekatan, inovasi, dan pembelajaran yang memungkinkan
sebuah desa menghasilkan perubahan.
Pengalaman Jabalsari menunjukkan bahwa konvergensi tidak selalu harus
dimulai dengan program yang besar. Ia dapat dibangun dari kemampuan desa
mengenali persoalan melalui data, menentukan sasaran secara tepat, membagi
peran, menggerakkan kader, melibatkan masyarakat, dan memastikan adanya tindak
lanjut. Karena itu, yang penting untuk direplikasi oleh desa
lain bukan semata-mata nama GERDU JEMPOLSARI, melainkan cara kerja di balik
inovasi tersebut.
Setiap desa tentu memiliki persoalan, sumber daya, karakter masyarakat dan
kemampuan kelembagaan yang berbeda. Karena itu, praktik baik tidak harus
disalin secara utuh. Ia dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan kondisi lokal.
Di titik inilah pengalaman Jabalsari menjadi penting. Data memberi arah. Kader menjangkau masyarakat. Pemerintah desa
menggerakkan sumber daya. Lintas sektor memperkuat intervensi. Dan masyarakat
menjadi bagian dari perubahan.
Dari proses itulah penurunan angka stunting bukan sekadar menjadi angka
dalam laporan, tetapi menjadi gambaran dari sebuah kerja bersama yang
berlangsung di tingkat desa.
Dan dari Jabalsari, pesan sederhananya menjadi jelas: percepatan penurunan
stunting akan lebih mungkin dicapai ketika desa tidak bekerja sendiri, melainkan
membangun konvergensi sebagai sebuah sistem kerja bersama. (MR)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar