TNA Jangan Berhenti pada Kebutuhan Pelatihan
Membaca Kesenjangan Kapasitas Pendampingan Desa dalam
Penerapan Pola Pendampingan Asimetris
Oleh: Maghfuri Ridlwan
Apa sebenarnya yang hendak kita temukan melalui TNA?
Apakah sekadar mengetahui pelatihan apa yang dibutuhkan
oleh pendamping desa?
Atau justru lebih jauh: pendampingan seperti apa
yang sesungguhnya dibutuhkan desa, apakah kapasitas pendamping yang tersedia
sudah memadai, dan apa yang harus dilakukan ketika kebutuhan pendampingan lebih
besar daripada kapasitas yang tersedia?
Pertanyaan
ini penting karena TNA yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Desa dan
Pembangunan Daerah Tertinggal tidak ditempatkan sebagai sekadar daftar
kebutuhan pelatihan. Dalam panduannya, TNA dipahami sebagai proses sistematis untuk
mengetahui karakteristik desa dan wilayah, kebutuhan pendampingan, tingkat
penguasaan kompetensi TPP, serta faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas
pendampingan. TNA juga ditegaskan bukan sebagai alat audit, pemeriksaan
administrasi, ataupun penilaian kinerja individu, melainkan instrumen untuk
pengembangan kompetensi.
Asimetris: Karena Desa Memang Tidak Sama
Penerapan
pola pendampingan asimetris berangkat dari kenyataan sederhana: desa tidak
pernah benar-benar sama.
Ada
desa yang telah kuat dalam tata kelola pemerintahan, tetapi belum mampu
mengembangkan potensi ekonominya. Ada desa dengan potensi ekonomi besar, tetapi
lemah dalam akses pasar dan jejaring kemitraan. Ada desa yang kelembagaannya
relatif kuat, tetapi partisipasi masyarakatnya masih rendah. Ada pula desa yang
masih berhadapan dengan persoalan mendasar seperti keterbatasan sumber daya
manusia, pelayanan dasar, aksesibilitas, risiko sosial, ekonomi, dan
lingkungan.
Karena
itu, pendampingan tidak dapat dibangun dengan satu resep yang sama untuk semua
desa.
Dalam
materi TNA, keragaman status kemajuan desa, kesenjangan pembangunan,
karakteristik wilayah, potensi lokal, kesiapan kelembagaan, risiko, dan peluang
pembangunan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pendampingan.
Dengan
demikian, asimetris bukan berarti diskriminatif. Justru sebaliknya.
Pendampingan asimetris merupakan cara untuk menghadirkan dukungan yang lebih
adil karena diberikan berdasarkan kebutuhan.
Desa
yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Maka
pertanyaan awal dalam pendampingan semestinya bukan: “Program apa yang harus
diberikan kepada semua desa?” Melainkan: “Apa yang dibutuhkan desa ini, apa
potensinya, persoalan apa yang dihadapinya, dan pendampingan seperti apa yang
paling tepat untuk membantunya berkembang?”
TNA Dimulai dari Kebutuhan Pendampingan
Salah
satu kekuatan instrumen TNA terletak pada alur berpikirnya. Ia tidak langsung
bertanya: pelatihan apa yang dibutuhkan TPP?
Alurnya
justru dimulai dari: karakteristik desa → kebutuhan pendampingan → kompetensi
yang dibutuhkan → kompetensi aktual → kesenjangan → penyebab → prioritas →
intervensi → pengembangan kompetensi → pendampingan yang lebih efektif.
Urutan ini mengandung pesan yang sangat penting:
pelatihan bukan titik awal.
Pelatihan merupakan salah satu kemungkinan intervensi setelah kebutuhan dan akar masalah diketahui. Sebab jika kita memulai dari pelatihan, kita berisiko menghasilkan kegiatan yang baik secara administratif, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan pendampingan.
Sebaliknya,
jika kita memulai dari kebutuhan desa, maka pelatihan ditempatkan secara
proporsional sebagai salah satu alat untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Panduan
TNA bahkan secara tegas membedakan penyebab kesenjangan yang berasal dari
kompetensi dengan penyebab nonkompetensi seperti sistem dan sarana. Karena itu,
intervensinya dapat berupa pelatihan maupun dukungan nonpelatihan.
Dengan kata lain: tidak setiap
masalah pendampingan membutuhkan pelatihan.
Dari Competency Gap ke Capacity Gap
Dari
kerangka tersebut, ada satu gagasan yang menurut saya penting untuk
dikembangkan lebih lanjut: membedakan kesenjangan kompetensi dengan kesenjangan
kapasitas pendampingan.
Competency
gap
terjadi ketika pendamping tersedia, tetapi kompetensinya belum sesuai dengan
tuntutan pendampingan.
Misalnya,
sebuah desa membutuhkan fasilitasi pengembangan ekonomi dan jejaring pasar,
sementara kemampuan pendamping dalam membangun kemitraan masih terbatas. Maka
intervensinya dapat berupa pelatihan, praktik, coaching, mentoring, atau
bentuk pengembangan kompetensi lainnya.
Tetapi
ada persoalan yang berbeda. Bagaimana jika kompetensi pendamping sebenarnya
tersedia, tetapi kapasitas pendampingan secara keseluruhan tidak mencukupi?
Misalnya
karena jumlah pendamping terbatas, distribusi pendamping tidak sebanding dengan
kebutuhan wilayah, beban desa terlalu besar, karakter persoalan semakin
kompleks, atau kebutuhan pendampingan membutuhkan intensitas yang lebih tinggi.
Inilah
yang saya sebut sebagai capacity gap -kesenjangan antara kebutuhan
pendampingan dengan kapasitas pendampingan yang tersedia.
Istilah
ini bukan terminologi yang secara eksplisit ditetapkan dalam panduan TNA.
Namun, menurut saya, ia merupakan konsekuensi logis yang dapat dikembangkan
dari kerangka TNA yang menempatkan kebutuhan desa dan kapasitas pendampingan
sebagai bagian dari proses analisis.
Sebab
seorang pendamping yang semakin banyak mengikuti pelatihan belum tentu mampu
memberikan pendampingan yang lebih baik apabila pada saat yang sama beban
wilayahnya terlalu besar.
Tidak semua masalah pendampingan
dapat diselesaikan dengan menambah kompetensi. Sebagian membutuhkan penambahan
atau penataan kapasitas.
Ketika Pelatihan Tidak Cukup
Bayangkan
sebuah desa memiliki persoalan pengembangan BUM Desa. Hasil TNA menunjukkan
bahwa kemampuan pendamping dalam pengembangan model usaha masih rendah.
Pelatihan tentu relevan.
Namun,
bagaimana jika setelah ditelusuri ternyata persoalannya tidak berhenti pada
kompetensi?
Misalnya
tidak ada jejaring pasar, akses kepada mitra usaha terbatas, data potensi
ekonomi desa belum memadai, dukungan lintas sektor lemah, atau pendamping tidak
memiliki cukup waktu karena harus menangani terlalu banyak desa.
Apakah semua persoalan itu dapat
diselesaikan dengan pelatihan? Tentu tidak.
Materi
TNA sendiri memberikan ilustrasi bahwa kebutuhan pengembangan ekonomi dapat
membutuhkan kombinasi intervensi, mulai dari pelatihan dan praktik hingga
mentoring dan dukungan jejaring atau kemitraan.
Maka
pertanyaan TNA seharusnya tidak berhenti pada: “Apa yang belum bisa dilakukan pendamping?”
Tetapi dilanjutkan dengan: “Mengapa hal itu belum dapat dilakukan?”
Dari
sana baru kita menentukan solusi. Jika masalahnya kompetensi, tingkatkan
kompetensi. Jika masalahnya sistem, perbaiki sistem. Jika masalahnya sarana,
sediakan sarana. Jika masalahnya jejaring, bangun jejaring. Jika masalahnya
koordinasi, perkuat koordinasi. Dan jika masalahnya adalah kapasitas
pendampingan yang tidak mencukupi, maka kapasitas tersebut perlu menjadi bagian
dari rekomendasi kebijakan.
Kebutuhan Pendampingan Harus Berujung pada Pemenuhan
Di
sinilah TNA menjadi penting bukan hanya bagi pengembangan kapasitas individu
TPP, tetapi juga bagi pengambilan kebijakan pendampingan desa.
Hasil
TNA diharapkan menghasilkan peta kesenjangan kompetensi, peta penyebab kesenjangan,
peta prioritas kebutuhan, serta peta kebutuhan intervensi pelatihan dan
nonpelatihan.
Artinya, hasil TNA seharusnya tidak
berhenti sebagai data.
Data harus menjadi pengetahuan.
Pengetahuan harus menjadi rekomendasi. Rekomendasi harus menjadi keputusan. Dan
keputusan harus menghasilkan intervensi.
Dalam konteks ini, pemenuhan kapasitas pendampingan tidak selalu berarti menambah jumlah TPP. Kapasitas dapat dibicarakan melalui beberapa dimensi: jumlah, kompetensi, distribusi, spesialisasi, intensitas pendampingan, dan dukungan sistem.
Pendekatan semacam ini akan membuat pembacaan kebutuhan pendampingan menjadi lebih utuh. Sebab pertanyaan kebijakannya bukan lagi sekadar: “Berapa banyak pendamping yang harus dilatih?” Tetapi: “Apakah kapasitas pendampingan yang tersedia sudah sebanding dengan kebutuhan dan kompleksitas desa yang harus didampingi?”
Pendampingan Asimetris Membutuhkan Kapasitas yang Responsif
Jika
kita menerima premis bahwa desa berbeda, maka kebutuhan pendampingannya pun
berbeda. Dan jika kebutuhan pendampingannya berbeda, kapasitas pendampingan
yang diperlukan tidak mungkin selalu sama.
Ini
tidak berarti setiap desa harus memiliki seorang pendamping dengan spesialisasi
berbeda. Tetapi sistem pendampingan harus mampu memastikan bahwa kebutuhan
spesifik desa memperoleh respons yang sesuai.
Karena itu, keberhasilan pendampingan asimetris tidak cukup diukur dari berapa banyak TPP mengikuti pelatihan. Ukuran yang lebih penting adalah: “Seberapa banyak kebutuhan pendampingan desa yang berhasil dijawab?”
Di
sinilah ukuran keberhasilan mulai bergeser. Dari: berapa orang yang dilatih?
Menjadi: berapa kebutuhan pendampingan yang terlayani?
Pergeseran
ini penting karena tujuan akhir pengembangan kapasitas TPP bukanlah
menghasilkan pendamping yang memiliki semakin banyak sertifikat atau pengalaman
mengikuti pelatihan. Tujuannya adalah menghasilkan pendampingan yang lebih
efektif bagi desa.
TNA sebagai Pintu Masuk Kebijakan
Panduan
TNA menyebut hasil TNA sebagai dasar untuk menyusun roadmap peningkatan
kapasitas jangka pendek dan jangka panjang, peta kesenjangan kompetensi, profil
kebutuhan dan potensi wilayah, prioritas materi, desain pelatihan, serta tindak
lanjut pascapelatihan.
Karena itu, TNA memiliki posisi
strategis.
Ia
bukan sekadar instrumen pengumpulan data. TNA dapat menjadi jembatan antara
realitas desa dan kebijakan pengembangan pendampingan.
Data
menunjukkan kondisi. Analisis menjelaskan kesenjangan. Kesenjangan menunjukkan
kebutuhan. Kebutuhan melahirkan rekomendasi. Dan rekomendasi seharusnya
melahirkan keputusan.
Jika
rangkaian tersebut berhenti pada pengisian instrumen dan pelaksanaan pelatihan,
maka sebagian besar potensi strategis TNA belum dimanfaatkan.
Jangan Sampai TNA Berhasil Menemukan Masalah, tetapi Gagal
Menyediakan Jawaban
Pada
akhirnya, tantangan terbesar TNA bukan terletak pada seberapa lengkap instrumen
dapat diisi. Tantangannya adalah apa yang dilakukan setelah kebutuhan
ditemukan.
Jangan
sampai kita menemukan bahwa kompetensi pendamping masih kurang, kebutuhan desa
tinggi, karakter wilayah semakin kompleks, dan beban pendampingan semakin
besar—tetapi hasil akhirnya hanya berupa daftar kebutuhan pelatihan.
Jika demikian, kita baru
menyelesaikan separuh pekerjaan.
TNA
semestinya menjadi bagian dari siklus: menemukan → memahami → menentukan
prioritas → mengintervensi → memastikan dukungan → mengukur perubahan.
Pada
titik inilah hasil TNA dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan kebijakan yang
lebih besar: “Apakah kapasitas sistem pendampingan kita sudah sebanding dengan
kebutuhan desa yang harus kita dampingi?”
Pertanyaan
tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun jawabannya dapat menentukan apakah
pendampingan asimetris benar-benar menjadi perubahan paradigma, atau hanya
perubahan istilah.
Dari Training Needs Assessment Menuju Capacity
Needs Assessment
TNA tetap penting. Bahkan sangat penting. Tetapi dalam konteks pendampingan asimetris, saya kira TNA perlu dibaca dengan perspektif yang lebih luas.
Training Needs Assessment menjawab pertanyaan: “Kompetensi apa yang perlu diperkuat?”
Sementara gagasan Capacity Needs
Assessment dapat melengkapinya dengan pertanyaan: “Kapasitas pendampingan
seperti apa yang dibutuhkan agar kebutuhan desa benar-benar dapat dilayani?”
Ini
bukan untuk menggantikan TNA. Justru untuk memastikan bahwa hasil TNA tidak
berhenti pada pengembangan individu, tetapi juga dapat menjadi bahan refleksi
terhadap kecukupan kapasitas sistem pendampingan desa.
Karena
pada akhirnya, pendampingan bukan tentang membuat pendamping semakin sibuk
mengikuti pelatihan. Pendampingan adalah tentang memastikan desa memperoleh
dukungan yang tepat, pada saat yang tepat, dengan cara yang tepat.
Penutup
Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat TNA. Jangan hanya bertanya: “Pendamping membutuhkan pelatihan apa?” Tetapi beranilah bertanya: “Desa membutuhkan pendampingan apa?”
Lalu:
“Siapa yang mampu memberikannya?” Kemudian: “Apakah kapasitas itu tersedia?”
Dan apabila belum tersedia: “Apa yang harus dilakukan untuk memenuhinya?”
Sebab TNA yang baik bukan hanya mampu menemukan kebutuhan pendamping. TNA yang baik juga harus mampu memperlihatkan kebutuhan pendampingan desa. Dan ketika kebutuhan itu sudah ditemukan, tugas kita bukan lagi sekadar mencatatnya. Tugas kita adalah memenuhinya. Sebab jangan sampai TNA berhasil menemukan bahwa pendamping membutuhkan peningkatan kapasitas, tetapi gagal menemukan bahwa desa membutuhkan kapasitas pendampingan yang lebih besar.
"Jangan sampai TNA berhasil menemukan bahwa pendamping
membutuhkan peningkatan kapasitas, tetapi gagal menemukan bahwa desa
membutuhkan kapasitas pendampingan yang lebih besar". — MR —

Tidak ada komentar:
Posting Komentar