TNA Datang
Terlambat? Mungkin. Tetapi Desa Tidak Bisa Menunggu Lebih Lama
Membaca Kembali
Strategi Pendampingan Desa di Tengah Tekanan Fiskal
Oleh Maghfuri Ridlwan
Delapan bulan lalu gagasan ini sudah pernah
disampaikan. Hari ini gagasan yang sama muncul dalam bentuk TNA. Persoalannya
bukan lagi apakah kita sadar, tetapi apakah setelah kesadaran itu lahir, kita
benar-benar bergerak?
Ada kalanya sebuah gagasan membutuhkan waktu untuk
menemukan bentuknya.
Pada Januari 2026, saya menulis tentang perubahan arah
pembangunan desa di tengah kebijakan fiskal yang semakin terbatas. Gagasannya
sederhana: Dana Desa tidak lagi cukup dibaca sebagai sumber pembiayaan belanja,
tetapi harus mulai diposisikan sebagai instrumen investasi manusia dan ekonomi
lokal.
Pada April, gagasan itu kami bawa ke ruang percakapan
melalui talkshow Ngopi Desa di Situbondo dengan tema “Bertahan dan
Bertumbuh: Strategi Pembangunan Desa di Tengah Tekanan Fiskal”, bersama
Bupati Situbondo sebagai salah satu narasumber.
Kini, pada Agustus, gagasan mengenai perubahan
kapasitas pendamping menemukan bentuk lain melalui hadirnya Modul Training
Needs Assessment (TNA) bagi Tenaga Pendamping Profesional (TPP)/Pendamping Desa
di Era Kebijakan Fiskal Desa yang Terbatas.
Tiga momentum tersebut sesungguhnya berbicara tentang
persoalan yang sama: Desa sedang berubah. Tetapi apakah cara kita mendampingi
desa juga sudah berubah?
Pertanyaan ini penting. Sebab perubahan fiskal bukan
sekadar persoalan berkurangnya angka dalam APB Desa. Perubahan tersebut membawa
konsekuensi terhadap cara desa menentukan prioritas, mengelola sumber daya,
membangun ekonomi, mengembangkan manusia, dan mengambil keputusan pembangunan.
Di titik inilah TNA patut diapresiasi. Namun,
sekaligus perlu diberi catatan. Bukan karena TNA tidak penting. Justru karena
TNA penting, kita perlu memastikan agar ia tidak berhenti sebagai sebuah
dokumen asesmen dan rancangan pelatihan.
Kesadaran harus segera berubah menjadi kapasitas. Dan
kapasitas harus berujung pada perubahan di desa.
Januari: Ketika Perubahan Fiskal Mulai Dibaca sebagai Perubahan Paradigma
Pada Januari 2026, saya menulis artikel berjudul “Dana
Desa 2026: Dari Belanja Fisik ke Investasi Manusia dan Ekonomi Lokal.”
https://tppprovjatim.blogspot.com/2026/01/dana-desa-2026-dari-belanja-fisik-ke.html?m=0
Tulisan tersebut lahir dari kegelisahan sederhana
terhadap perubahan ruang fiskal desa. Ketika sumber daya semakin terbatas, desa
tidak bisa lagi menggunakan cara berpikir yang sama seperti ketika ruang
fiskalnya relatif longgar.
Persoalannya bukan sekadar: “Berapa Dana Desa yang
kita terima?”
Pertanyaannya harus bergeser menjadi: “Dengan
sumber daya yang tersedia, perubahan apa yang paling penting dan paling mungkin
diciptakan desa?”
Perubahan pertanyaan ini sesungguhnya sangat mendasar.
Sebab pembangunan desa terlalu mudah terjebak dalam
logika spending: seberapa besar anggaran dapat dibelanjakan, berapa
banyak kegiatan dapat dilaksanakan, dan berapa banyak output yang dapat
dilaporkan.
Padahal keterbatasan fiskal memaksa desa mulai berpikir
dalam logika value creation: berapa besar nilai ekonomi, sosial, dan
kapasitas manusia yang dapat diciptakan dari sumber daya yang tersedia?
Karena itu, pembangunan desa perlu memberi ruang lebih
besar bagi investasi manusia, penguatan ekonomi lokal, pengembangan BUMDes,
optimalisasi aset desa, penguatan kelembagaan, serta pencarian sumber
pembiayaan alternatif.
Gagasan itu tidak berarti menganggap Dana Desa tidak
penting.
Justru sebaliknya. Dana Desa tetap penting. Tetapi
ketika jumlahnya semakin terbatas, cara menggunakannya harus semakin strategis.
April: Gagasan Itu Kami Bawa ke Ruang Percakapan
Tulisan saja ternyata tidak cukup.
Pada 29 April 2026 di Situbondo, persoalan tersebut
kami bawa ke ruang percakapan melalui talkshow Ngopi Desa bertajuk “Bertahan
dan Bertumbuh: Strategi Pembangunan Desa di Tengah Tekanan Fiskal.”
Di sana persoalan dirumuskan secara lebih konkret. Dalam
beberapa kasus, penurunan kapasitas fiskal desa bahkan mencapai lebih dari 70
persen. Ruang fiskal desa menyempit secara drastis.
Dampaknya bukan hanya berkurangnya kemampuan belanja.
Berbagai program pembangunan dapat tertunda, baik pembangunan infrastruktur
maupun pemberdayaan masyarakat.
Namun ada paradoks yang tidak boleh kita abaikan ketika
kapasitas fiskal turun, kebutuhan desa tidak ikut turun.
Desa tetap harus menjaga kualitas layanan dasar. Tetap
dituntut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Tetap menghadapi persoalan sosial
masyarakat. Dan tetap harus mempertahankan keberlanjutan pembangunan.
Dengan kata lain: Beban pembangunan tetap tinggi,
sementara kapasitas fiskal semakin rendah.
Di situlah desa berada dalam posisi dilematis.
Tetapi situasi tersebut sekaligus membuka persoalan
struktural yang selama ini belum sepenuhnya terselesaikan.
Pertama, tingginya ketergantungan desa terhadap dana
transfer pusat.
Kedua, rendahnya kapasitas Pendapatan Asli Desa
(PADesa) yang belum mampu menjadi sumber pembiayaan alternatif.
Ketiga, belum optimalnya pemanfaatan potensi dan aset
desa sebagai basis ekonomi lokal.
Keempat, pendekatan pembangunan yang masih
berorientasi pada belanja (spending), bukan penciptaan nilai (value
creation).
Karena itu, talkshow tersebut tidak diarahkan untuk
mencari jawaban atas pertanyaan: “Bagaimana mendapatkan kembali Dana Desa
seperti dulu?”
Pertanyaannya justru: “Bagaimana desa dapat
bertahan dan bertumbuh ketika sumber dayanya terbatas?”
Dari sana kami mencoba mendorong beberapa agenda:
mengidentifikasi tantangan pembangunan desa dalam kondisi fiskal terbatas,
menggali strategi inovatif tanpa ketergantungan penuh pada Dana Desa,
memperkuat peran TAPM agar lebih adaptif, berbagi praktik baik, serta mendorong
kebijakan dan pendampingan yang lebih kontekstual.
Dengan demikian, persoalan yang dibicarakan mulai
bergeser: dari persoalan anggaran menuju persoalan kapasitas.
Agustus: TNA Membawa Pesan yang Sama
Delapan bulan setelah gagasan itu pertama kali saya
tuliskan, hadir Modul Training Needs Assessment (TNA) bagi TPP/Pendamping
Desa.
Saya menyambutnya dengan apresiasi dan penuh suka cita.
TNA secara eksplisit mengakui bahwa perubahan
kebijakan fiskal desa menuntut TPP beradaptasi dari peran
administratif-fasilitatif konvensional menuju peran yang lebih strategis,
dengan penekanan pada efisiensi, inovasi pembiayaan, penguatan SDM desa, dan digitalisasi
tata kelola.
Ini penting. Artinya, perubahan yang terjadi di desa mulai dibaca sebagai sesuatu yang juga menuntut perubahan kompetensi pendamping.
TNA tidak semata-mata memulai pertanyaan dari: “Pelatihan
apa yang akan diberikan kepada TPP?” Tetapi dari pertanyaan yang lebih
mendasar: “Kompetensi apa yang dibutuhkan TPP agar mampu menjalankan tugas
secara efektif dalam situasi baru?”
Secara konseptual, TNA memang dirancang untuk
menemukan kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki saat ini dan kompetensi
yang dibutuhkan.
Ini merupakan langkah yang lebih sehat daripada
menyusun agenda pelatihan sekadar berdasarkan kebiasaan tahunan.
Ketika Kompetensi TPP Bertemu dengan Persoalan Desa
Jika dibaca lebih teliti, empat domain kompetensi yang
ditawarkan TNA memiliki hubungan kuat dengan persoalan yang muncul dalam
diskusi beberapa bulan terakhir.
TNA menempatkan pengembangan SDM desa, digitalisasi
desa, efisiensi fiskal dan optimalisasi anggaran, serta fasilitasi dan
pemberdayaan sebagai domain kompetensi prioritas.
Perhatikan domain Efisiensi Fiskal dan Optimalisasi
Anggaran.
TPP diharapkan mampu membantu desa menyusun prioritas
penggunaan Dana Desa secara efisien, mendorong sumber pendanaan alternatif
melalui BUMDes, kerja sama antardesa dan CSR, sekaligus mengawal transparansi
serta akuntabilitas anggaran.
Bukankah ini sangat dekat dengan persoalan yang kami
bicarakan di Situbondo?
Ketika Dana Desa tidak lagi dapat menjadi satu-satunya
tumpuan, desa harus mulai mencari sumber daya lain.
Ketika ruang fiskal semakin sempit, desa harus lebih
cermat menentukan prioritas.
Ketika aset dan potensi desa belum optimal, desa harus
mulai mengubahnya menjadi basis ekonomi.
Dan ketika pembangunan tidak lagi dapat mengandalkan
belanja semata, desa harus mulai belajar menciptakan nilai.
Dengan demikian, TNA tidak muncul di ruang kosong. Ia
hadir di tengah persoalan yang sebenarnya sudah kita rasakan dan diskusikan
selama beberapa bulan.
Di sinilah saya ingin memberikan catatan kritis. Kalau boleh jujur, TNA ini datang agak terlambat. Bukan karena Agustus secara kalender sudah terlalu jauh. Tetapi karena perubahan fiskal desa sudah dirasakan sejak awal tahun. Januari sudah kita bicarakan. April sudah kita diskusikan.
Desa sudah mengalami dan meresponsnya. Para pendamping sudah berhadapan langsung dengan berbagai konsekuensinya. Maka ketika TNA hadir pada bulan kedelapan, pertanyaannya bukan lagi: “Apakah kita membutuhkan perubahan kompetensi?”
Jawabannya sudah jelas: Ya.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: “Seberapa cepat kesadaran itu
dapat diterjemahkan menjadi perubahan dalam praktik pendampingan?”
Menurut saya, pertanyaan ini jauh lebih penting daripada memperdebatkan
apakah TNA terlambat atau tidak. Sebab desa tidak sedang menunggu kita
menyelesaikan perdebatan. Desa sudah berjalan dengan persoalannya
masing-masing.
Jangan Sampai TNA Berhenti Menjadi Training
Catatan kedua bahkan lebih penting. TNA harus dijaga agar tidak berhenti sebagai instrumen untuk menentukan siapa membutuhkan pelatihan apa.
Modul ini sebenarnya sudah memiliki kerangka yang
cukup baik. Ada perencanaan, pengumpulan data, gap analysis, penentuan
prioritas, dan perumusan kurikulum. Pengumpulan datanya juga menggunakan
kombinasi self-assessment, wawancara, FGD, observasi kinerja, dan telaah
dokumen.
Instrumennya menyentuh kompetensi yang konkret:
penyusunan prioritas belanja dengan anggaran terbatas, pengembangan BUMDes,
digitalisasi layanan, literasi data, dan fasilitasi musyawarah.
Rancangan kurikulumnya pun mengarah pada lima
kompetensi penting: manajemen fiskal desa yang efisien, pengembangan SDM dan
kaderisasi, digitalisasi tata kelola, literasi data untuk perencanaan, serta
fasilitasi perubahan dan musyawarah desa.
Semua itu penting. Tetapi kita harus berhati-hati terhadap satu jebakan: Jangan sampai kita menghasilkan TPP yang lebih terlatih, tetapi tidak menghasilkan pendampingan yang lebih berdampak.
Sebab pelatihan bukan tujuan akhir. Perubahan di desa
adalah tujuan akhirnya.
Dari Training Need Menuju Change Need
Karena itu, TNA perlu dibaca satu tingkat lebih jauh. TNA bertanya: “Apa kesenjangan kompetensi kita?”
Tetapi pendampingan harus melanjutkan pertanyaan: “Perubahan
apa yang harus terjadi di desa?”
Ketika masalahnya adalah ketergantungan desa terhadap
Dana Desa, misalnya, kompetensi TPP tidak cukup hanya “memahami efisiensi
anggaran”.
TPP harus mampu membantu desa membaca seluruh sumber
daya yang dimiliki, memetakan potensi ekonomi, mengidentifikasi aset yang dapat
dikembangkan, menghitung pilihan usaha, membuka akses kemitraan, mengembangkan
BUMDes, membangun kerja sama antardesa, dan menemukan sumber pembiayaan yang
memungkinkan.
Begitu pula dalam pengembangan SDM. TPP tidak cukup
hanya mampu menyelenggarakan Bimtek.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengidentifikasi: siapa
yang perlu diperkuat, kompetensi apa yang dibutuhkan, bagaimana membangunnya,
siapa yang dapat menjadi mitra, dan perubahan apa yang diharapkan setelah
kapasitas itu dibangun.
Di sinilah kita perlu bergerak Training Need →
Competency Need → Change Need.
Ini penting karena kebutuhan pelatihan seharusnya
lahir dari kebutuhan perubahan, bukan sebaliknya.
Digitalisasi Bukan Sekadar Kemampuan Mengoperasikan Aplikasi
TNA memberikan perhatian cukup besar pada
digitalisasi. Siskeudes, SID, layanan publik digital, IDM, dan e-HDW menjadi
bagian dari kompetensi yang diprioritaskan.
Ini tentu relevan. Tetapi pendampingan digital tidak
boleh berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa keputusan pembangunan yang menjadi lebih baik karena data tersebut?”. Sebab desa tidak semata-mata kekurangan data. Yang sering kali kurang adalah kemampuan menerjemahkan data menjadi keputusan.
Data harus bergerak menjadi: Data → Informasi →
Analisis → Keputusan → Tindakan → Perubahan.
Di sinilah TPP seharusnya hadir sebagai penerjemah
data, bukan operator, bukan administrator. Tetapi data translator yang
membantu desa memahami apa arti data bagi keputusan pembangunan.
Dari Fasilitator Menjadi Penggerak Perubahan
Ada satu istilah dalam TNA yang menurut saya sangat
penting: change agent.
Fasilitasi perubahan dan komunikasi perubahan
ditempatkan sebagai bagian dari kompetensi inti TPP.
Pesannya jelas. Pendamping tidak boleh menjadi
pelaksana pembangunan desa. Tetapi pendamping juga tidak boleh menjadi penonton
pembangunan desa. Pendamping berada di antara keduanya.
Ia tidak mengambil alih keputusan desa, tetapi
membantu desa memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengambil keputusan.
Ia tidak menentukan usaha BUMDes, tetapi membantu desa
menemukan pilihan usaha yang rasional.
Ia tidak menentukan prioritas APB Desa, tetapi
membantu desa memahami konsekuensi dari setiap pilihan.
Ia tidak menggantikan pemerintah desa, tetapi membantu
pemerintah desa dan masyarakat menjadi lebih mampu.
Itulah esensi pendampingan yang adaptif.
Persoalannya Bukan Lagi “Dana Desa Ada atau Tidak”
Setelah delapan bulan berjalan, mungkin sudah waktunya
kita berhenti menggunakan kalimat: “Dana Desa sekarang sudah tidak seperti
dulu.”
Kalimat itu mungkin benar sebagai diagnosis. Tetapi ia tidak boleh menjadi strategi. Sebab jika diagnosis terus diulang tanpa melahirkan strategi baru, keterbatasan fiskal hanya akan menghasilkan budaya keluhan.
Padahal keterbatasan seharusnya memaksa kita menjadi lebih kreatif. Ketika uang berkurang, prioritas harus lebih tajam. Ketika anggaran terbatas, kolaborasi harus lebih luas. Ketika transfer pusat tidak cukup, sumber daya lokal harus lebih serius digali. Ketika proyek fisik semakin sulit dilakukan, investasi manusia dan ekonomi lokal harus semakin diperkuat. Dan ketika desa menghadapi persoalan yang semakin kompleks, pendamping harus memiliki kapasitas yang semakin strategis.
Desa Tidak Membutuhkan Pendamping yang Hanya Lebih Pintar
Desa membutuhkan pendamping yang lebih mampu membuat
desa menjadi lebih mampu.
Ini perbedaannya.
Kita tidak sedang membutuhkan pendamping yang sekadar menguasai lebih banyak regulasi. Kita membutuhkan pendamping yang mampu membaca perubahan. Tidak sekadar mengumpulkan data, tetapi mampu menerjemahkannya. Tidak sekadar memahami anggaran, tetapi mampu membantu menentukan prioritas. Tidak sekadar memahami BUMDes, tetapi mampu membantu menemukan model bisnis yang realistis. Tidak sekadar memfasilitasi musyawarah, tetapi mampu membantu masyarakat menghasilkan keputusan yang berkualitas. Dan tidak sekadar mengawal kegiatan, tetapi mampu mengawal perubahan.
TNA Boleh Terlambat. Gerakan Tidak Boleh
Pada akhirnya, saya tidak ingin menempatkan
TNA sebagai sesuatu yang terlambat sehingga harus ditolak.
Justru sebaliknya. Saya melihat TNA sebagai
bentuk kesadaran yang patut diapresiasi.
Kesadaran bahwa perubahan fiskal
membutuhkan perubahan strategi. Kesadaran bahwa perubahan strategi membutuhkan
perubahan kompetensi. Dan kesadaran bahwa perubahan kompetensi pendamping harus
dirancang secara sistematis.
Tetapi setelah kesadaran itu hadir,
pekerjaan yang lebih besar justru dimulai mengubah TNA menjadi gerakan.
Modul TNA sendiri sudah membuka ruang ke
arah itu. Evaluasi tidak berhenti pada reaksi peserta dan peningkatan pengetahuan,
tetapi juga diarahkan untuk melihat perubahan perilaku kerja serta dampaknya
terhadap desa dalam periode setelah pelatihan.
Karena itu, ukuran keberhasilan TNA bukan
sekadar berapa banyak TPP yang mengikuti pelatihan. Bukan pula berapa banyak
sertifikat yang diterbitkan.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa
banyak TPP yang setelah mendapatkan penguatan kapasitas mampu membantu desa
mengambil keputusan yang lebih baik?
Dan pada akhirnya Berapa banyak desa yang
mampu bertahan, bertumbuh, dan menciptakan nilai meskipun sumber dayanya
terbatas?
Delapan bulan lalu, pertanyaan itu mungkin
masih terdengar sebagai gagasan. Empat bulan lalu, ia menjadi bahan percakapan.
Hari ini, ia mulai mendapatkan bentuk dalam sebuah TNA.
Maka langkah berikutnya seharusnya bukan lagi sekadar berbicara. Melainkan bergerak. Sebab keberhasilan pendampingan tidak diukur dari seberapa banyak kegiatan yang kita kawal, tetapi dari seberapa jauh kapasitas desa tumbuh untuk menghadapi masa depannya sendiri.
TNA boleh datang terlambat. Tetapi
perubahan di desa tidak boleh menunggu lebih lama.
“Perubahan fiskal membutuhkan perubahan
strategi pembangunan
Perubahan strategi pembangunan membutuhkan
perubahan kompetensi pendamping
Perubahan kompetensi pendamping membutuhkan TNA yang menjadi jembatan menuju perubahan di desa”. — MR —

Tidak ada komentar:
Posting Komentar