Meneguhkan Profesionalisme dan Kebersamaan dalam Proses Transformasi
Menjaga Cahaya di Tengah Gelombang
Perubahan
Kita berdiri di tengah badai. Ke atas, belum ada kepastian yang
benar-benar bisa kita pegang. Ke bawah, harus menjaga nyala orang-orang yang lelah tapi masih bertahan. Ada
masyarakat yang tetap
membutuhkan pendampingan, arahan, dan kehadiran kita.
Inilah posisi yang tidak selalu terlihat, tidak selalu
dipahami, dan sering kali terasa sepi. Posisi pemimpin yang sunyi. Posisi
pengabdi yang diuji bukan hanya oleh pekerjaan, tetapi oleh ketidakjelasan. SK TPP sudah diterima, tetapi Surat
Tugas yang seharusnya menyusul sejak awal tahun belum juga jelas. Hak atas
kepastian kerja dan penghasilan masih tertunda. Sementara itu, tugas tetap
berjalan. Desa tetap bergerak. Masyarakat tetap menunggu.
Dalam kondisi seperti ini, rasa lelah adalah wajar. Rasa ragu adalah manusiawi.
Bahkan rasa kecewa pun adalah sesuatu yang tidak perlu kita sangkal. Tidak mudah berpikir ideal ketika
kepastian belum hadir. Tidak mudah berinisiatif ketika arah belum sepenuhnya
terang. Dan tidak adil jika kita saling menyalahkan dalam situasi seperti ini.
Justru di titik inilah kita sedang diuji bukan sekadar sebagai tenaga
profesional, tetapi sebagai manusia yang memilih untuk tetap bertahan.
Mercusuar Tua dan Cahaya
yang Tetap Menyala
Ada sebuah cerita. Sebuah mercusuar tua di pesisir. Catnya
terkelupas, anggaran perawatannya sering terlambat, dan penjaganya
bertahun-tahun tidak pernah menerima surat tugas baru secara resmi. Bahkan
gajinya pun sering datang tanpa kepastian waktu.
Suatu malam ia bertanya, “Untuk apa aku terus menyalakan lampu
ini, jika tak ada yang benar-benar memperhatikanku?”
Lalu ia memandang ke laut. Yang ia lihat bukan pejabat. Bukan sistem. Bukan administrasi.
Ia melihat kapal-kapal kecil, nelayan, awak kapal, keluarga yang
sedang berjuang pulang. Mereka hanya punya satu penanda arah di tengah gelap:
cahaya dari lampu yang tiap malam ia nyalakan.
Saat itu ia sadar, Ia tidak menyalakan lampu karena surat tugas. Ia menyalakannya karena jika lampu itu padam, yang karam bukan sistem, melainkan
manusia.
Ia tetap menyalakan lampu, bukan sebagai orang yang patuh, tapi sebagai orang yang sadar arti kehadirannya. “Dan justru karena tidak ada yang melihat, makna tugas itu menjadi paling murni.”
Kisah itu terasa dekat dengan kita.
Kita mungkin tidak berada dalam kondisi ideal. Kita
mungkin belum mendapatkan kepastian yang layak. Namun di hadapan kita ada
desa-desa yang tidak bisa menunggu sampai urusan administratif selesai. Ada
proses pembangunan yang tetap harus berjalan. Ada masyarakat yang tetap
membutuhkan arah.
Ini bukan pembenaran atas ketidakpastian. Ini bukan
ajakan untuk menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang normal. Tetapi ini
adalah kesadaran bahwa dalam jeda sistem, nilai kemanusiaan tetap harus dijaga.
Jangan Saling Menyalahkan
Apa yang sedang terjadi bukan karena kita tidak
profesional. Bukan karena kita kurang dedikasi. Ini adalah persoalan struktural, persoalan
kebijakan dan sistem yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.
Karena itu, satu hal yang paling penting untuk kita
jaga adalah kebersamaan.
Jangan saling menyimpan prasangka.
Jangan saling melemahkan.
Jangan mematikan kepercayaan hanya karena keadaan membuat kita letih.
Jika ada yang merasa ragu, itu wajar.
Jika ada yang merasa lelah, itu manusiawi.
Tetapi jangan biarkan kelelahan itu mengikis rasa bahwa peran kita tetap
bermakna.
Profesionalisme kita hari ini bukan tentang bekerja
tanpa batas dalam ketidakpastian. Profesionalisme kita adalah tentang menjaga
tugas inti tetap berjalan secara proporsional. Tentang memastikan desa tidak
ikut tenggelam hanya karena sistem sedang lambat bergerak.
Kesepakatan Sederhana yang Perlu
Dijaga
Di tengah situasi ini, mungkin yang kita butuhkan
bukan target baru, bukan tekanan tambahan, dan bukan tuntutan untuk terlihat
kuat.
Yang kita butuhkan adalah kesepakatan sederhana:
- Tetap
menjaga komunikasi.
- Tetap
menjalankan tugas inti secara proporsional.
- Tetap
hadir untuk desa, tanpa mengorbankan kewarasan dan martabat diri.
Kita tidak diminta menjadi pahlawan.
Kita tidak diminta berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Kita hanya diminta menjaga agar cahaya itu tidak padam.
Mungkin tidak terang benderang.
Mungkin tidak sempurna.
Tetapi cukup untuk menunjukkan arah.
Ketika Masa Sulit Ini Berlalu
Tidak ada badai yang berlangsung selamanya. Masa ini
pun akan berlalu. Dan ketika kita menoleh ke belakang nanti, yang akan kita
ingat bukan hanya tentang keterlambatan surat tugas atau pencairan gaji.
Kita akan ingat bagaimana kita memilih bersikap saat
semuanya tidak jelas.
Apakah kita memadamkan lampu?
Atau kita menjaganya tetap menyala - secukupnya, setenang mungkin,
semampu kita?
Kebersamaan kita hari ini adalah kekuatan yang paling
nyata. Di tengah sistem yang belum pasti, solidaritas adalah kepastian yang
bisa kita ciptakan sendiri.
Mari kita tetap saling mendengar.
Saling menguatkan.
Dan tetap berjalan dengan kepala dingin serta hati yang jernih.
Karena pada akhirnya, yang paling bermakna bukan hanya
tentang bagaimana sistem memperlakukan kita tetapi tentang bagaimana kita
memilih tetap menjadi cahaya bagi sesama.
*Cak Furi

Pendamping desa adalah jalan khidmah kami.agar barokah illahi kami dapati,tidak hanya sekedar gaji,karena barokah illahi tentu lebih tinggi dari gaji
BalasHapusTetap semangat untuk Desa
BalasHapusSemangat ber Desa.. membangun Desa membangun Indonesia.. Semoga Pendamping Desa menjadi belanja pegawai bukan lagi belanja barang jasa 🤲
BalasHapus