Rabu, 11 Februari 2026

Meneguhkan Profesionalisme dan Kebersamaan dalam Proses Transformasi

Menjaga Cahaya di Tengah Gelombang Perubahan


Ada masa ketika menjadi bagian dari sistem terasa ringan. 
Arah jelas, kepastian ada, dan kerja terasa memiliki pijakan yang kuat. 
Tetapi ada juga masa ketika semuanya terasa menggantung.

Kita berdiri di tengah badai. Ke atas, belum ada kepastian yang benar-benar bisa kita pegang. Ke bawah, harus menjaga nyala orang-orang yang lelah tapi masih bertahan. Ada masyarakat yang tetap membutuhkan pendampingan, arahan, dan kehadiran kita.

Inilah posisi yang tidak selalu terlihat, tidak selalu dipahami, dan sering kali terasa sepi. Posisi pemimpin yang sunyi. Posisi pengabdi yang diuji bukan hanya oleh pekerjaan, tetapi oleh ketidakjelasan. SK TPP sudah diterima, tetapi Surat Tugas yang seharusnya menyusul sejak awal tahun belum juga jelas. Hak atas kepastian kerja dan penghasilan masih tertunda. Sementara itu, tugas tetap berjalan. Desa tetap bergerak. Masyarakat tetap menunggu.

Dalam kondisi seperti ini, rasa lelah adalah wajar. Rasa ragu adalah manusiawi.
Bahkan rasa kecewa pun adalah sesuatu yang tidak perlu kita sangkal.
Tidak mudah berpikir ideal ketika kepastian belum hadir. Tidak mudah berinisiatif ketika arah belum sepenuhnya terang. Dan tidak adil jika kita saling menyalahkan dalam situasi seperti ini.

Justru di titik inilah kita sedang diuji bukan sekadar sebagai tenaga profesional, tetapi sebagai manusia yang memilih untuk tetap bertahan.

Mercusuar Tua dan Cahaya yang Tetap Menyala

Ada sebuah cerita. Sebuah mercusuar tua di pesisir. Catnya terkelupas, anggaran perawatannya sering terlambat, dan penjaganya bertahun-tahun tidak pernah menerima surat tugas baru secara resmi. Bahkan gajinya pun sering datang tanpa kepastian waktu.

Suatu malam ia bertanya, “Untuk apa aku terus menyalakan lampu ini, jika tak ada yang benar-benar memperhatikanku?”

Lalu ia memandang ke laut. Yang ia lihat bukan pejabat. Bukan sistem. Bukan administrasi.

Ia melihat kapal-kapal kecil, nelayan, awak kapal, keluarga yang sedang berjuang pulang. Mereka hanya punya satu penanda arah di tengah gelap: cahaya dari lampu yang tiap malam ia nyalakan.

Saat itu ia sadar, Ia tidak menyalakan lampu karena surat tugas. Ia menyalakannya karena jika lampu itu padam, yang karam bukan sistem, melainkan manusia.

Ia tetap menyalakan lampu, bukan sebagai orang yang patuh, tapi sebagai orang yang sadar arti kehadirannya. “Dan justru karena tidak ada yang melihat, makna tugas itu menjadi paling murni.”

Kisah itu terasa dekat dengan kita.

Kita mungkin tidak berada dalam kondisi ideal. Kita mungkin belum mendapatkan kepastian yang layak. Namun di hadapan kita ada desa-desa yang tidak bisa menunggu sampai urusan administratif selesai. Ada proses pembangunan yang tetap harus berjalan. Ada masyarakat yang tetap membutuhkan arah.

Ini bukan pembenaran atas ketidakpastian. Ini bukan ajakan untuk menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang normal. Tetapi ini adalah kesadaran bahwa dalam jeda sistem, nilai kemanusiaan tetap harus dijaga.

Jangan Saling Menyalahkan

Apa yang sedang terjadi bukan karena kita tidak profesional. Bukan karena kita kurang dedikasi. Ini adalah persoalan struktural, persoalan kebijakan dan sistem yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.

Karena itu, satu hal yang paling penting untuk kita jaga adalah kebersamaan.

Jangan saling menyimpan prasangka.
Jangan saling melemahkan.
Jangan mematikan kepercayaan hanya karena keadaan membuat kita letih.

Jika ada yang merasa ragu, itu wajar.
Jika ada yang merasa lelah, itu manusiawi.
Tetapi jangan biarkan kelelahan itu mengikis rasa bahwa peran kita tetap bermakna.

Profesionalisme kita hari ini bukan tentang bekerja tanpa batas dalam ketidakpastian. Profesionalisme kita adalah tentang menjaga tugas inti tetap berjalan secara proporsional. Tentang memastikan desa tidak ikut tenggelam hanya karena sistem sedang lambat bergerak.

Kesepakatan Sederhana yang Perlu Dijaga

Di tengah situasi ini, mungkin yang kita butuhkan bukan target baru, bukan tekanan tambahan, dan bukan tuntutan untuk terlihat kuat.

Yang kita butuhkan adalah kesepakatan sederhana:

  • Tetap menjaga komunikasi.
  • Tetap menjalankan tugas inti secara proporsional.
  • Tetap hadir untuk desa, tanpa mengorbankan kewarasan dan martabat diri.

Kita tidak diminta menjadi pahlawan.
Kita tidak diminta berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Kita hanya diminta menjaga agar cahaya itu tidak padam.

Mungkin tidak terang benderang.
Mungkin tidak sempurna.
Tetapi cukup untuk menunjukkan arah.

Ketika Masa Sulit Ini Berlalu

Tidak ada badai yang berlangsung selamanya. Masa ini pun akan berlalu. Dan ketika kita menoleh ke belakang nanti, yang akan kita ingat bukan hanya tentang keterlambatan surat tugas atau pencairan gaji.

Kita akan ingat bagaimana kita memilih bersikap saat semuanya tidak jelas.

Apakah kita memadamkan lampu?
Atau kita menjaganya tetap menyala
- secukupnya, setenang mungkin, semampu kita?

Kebersamaan kita hari ini adalah kekuatan yang paling nyata. Di tengah sistem yang belum pasti, solidaritas adalah kepastian yang bisa kita ciptakan sendiri.

Mari kita tetap saling mendengar.
Saling menguatkan.
Dan tetap berjalan dengan kepala dingin serta hati yang jernih.

Karena pada akhirnya, yang paling bermakna bukan hanya tentang bagaimana sistem memperlakukan kita tetapi tentang bagaimana kita memilih tetap menjadi cahaya bagi sesama.


*Cak Furi

3 komentar:

  1. Pendamping desa adalah jalan khidmah kami.agar barokah illahi kami dapati,tidak hanya sekedar gaji,karena barokah illahi tentu lebih tinggi dari gaji

    BalasHapus
  2. Semangat ber Desa.. membangun Desa membangun Indonesia.. Semoga Pendamping Desa menjadi belanja pegawai bukan lagi belanja barang jasa 🤲

    BalasHapus

  Refleksi Kepemimpinan Koordinator TPP Provinsi Jawa Timur dalam Menata Arah, Memperkuat Sistem, dan Meneguhkan Komitmen Pendampingan di Aw...