SALAM LAOS.....
Kejadian absurd bukanlah hal baru bagi kami. Meski begitu tetep aja bisa
bikin kaget, syok, melongo kadang malah bikin ngakak. Di lapangan, rencana
sering kalah sama realita. Saya punya satu cerita ketika memfasilitasi sebuah forum diskusi di salah satu kabupaten di ujung barat selatan Jawa Timur. Saya minta para peserta untuk menuliskan satu cerita paling absurd yang dialami selama menjalankan tugas pendampingan. Salah seorang PD menuliskan: "Ketika perencanaan kami menjadi orang yang
dicari, dan ketika realisasi tidak ada satupun yang ngabari. Dan di situ kami
merasa menjadi LAOS".
Kemudian saya meminta yang bersangkutan untuk membaca di depan kelas, ahaaiiii...bener-bener bikin seluruh peserta tertawa. Sebab, cerita ini cukup relate dengan liku-liku cerita pendampingan, dan tidak sedikit yang mengalaminya. Kalimat di atas adalah ungkapan yang cukup menggelitik dari seorang PD yang tiap hari kerjaannya di desa. Ada kalanya dia dicari-cari, di lain waktu tak satupun yang mencari. Kadang ada yang merasa kehilangan, tapi kadang ada juga yang ngumpet slintutan.
Pendamping sudah memberi arahan, tapi keputusan tetap bukan di tangan kita. Kita hanya mendampingi, ibaratlah sebatas temen yang gak pegang spicemen. Tapi kondisi kadang mewajibkan kita ikut "ngatur" meski bukan donatur. (ngatur dalam arti memastikan aturan diterapkan dengan resiko dianggap masuk terlalu dalam, intervensi bahkan mendikte).
Kita dicari saat dibutuhkan, dan pada saat yang lain begitu saja diabaikan. Ibarat Laos (lengkuas) yang disisihkan ketika masakan sudah siap dihidangkan....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar