Kamis, 12 Maret 2026

 

Strategi Membangun Desa;
“Pembangunan Berbasis Inisiatif”

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang dimuat pada 12 Maret 2026 dengan judul “Pembangunan Desa di Tengah Ruang Fiskal yang Menyempit”. Dalam tulisan tersebut dinyatakan bahwa kondisi fiskal yang terbatas sebenarnya dapat menjadi momentum bagi desa untuk mengubah pendekatan pembangunan. Desa tidak lagi semata-mata mengandalkan besaran anggaran, tetapi lebih menekankan pada kualitas perencanaan, kolaborasi, dan inovasi lokal.


Ada beberapa arah strategi yang dapat dipertimbangkan, salah satunya adalah penguatan ekonomi desa berbasis potensi lokal; BUMDes, koperasi desa, dan usaha mikro masyarakat perlu diarahkan menjadi lokomotif ekonomi desa. Dan penutup ditegas bahwa ruang fiskal yang terbatas bukanlah akhir dari pembangunan desa. Justru kondisi ini dapat menjadi momentum untuk melakukan transformasi pendekatan pembangunan desa: dari yang semula berbasis anggaran menjadi berbasis inovasi dan pemberdayaan atau bisa disebut dengan pembangunan berbasis inisiatif.

Agar gagasan “pembangunan berbasis inisiatif” benar-benar operasional, desa perlu menerjemahkannya menjadi langkah nyata dalam perencanaan, kelembagaan ekonomi, dan penggerakan masyarakat. Pendekatan ini menekankan bahwa pembangunan desa harus bertumpu pada potensi lokal dan partisipasi masyarakat, bukan sekadar pada besaran anggaran. Berikut strategi operasional dan konkret yang bisa dilakukan oleh desa.

 

Strategi Operasional Pembangunan Desa Berbasis Inisiatif

1.   Pemetaan Potensi Ekonomi Desa Secara Partisipatif

Tujuannya adalah mengetahui peluang ekonomi yang realistis untuk dikembangkan.

Langkah konkret:

1) Pemerintah desa membentuk Tim Pemetaan Potensi Desa (melibatkan BPD, BUMDes, KDMP, kelompok tani, karang taruna).

2) Melakukan musyawarah desa tematik ekonomi untuk mengidentifikasi komoditas unggulan desa, potensi jasa (wisata, perdagangan, logistik) dan potensi keterampilan warga.

3) Menyusun Peta Potensi Ekonomi Desa (misalnya: pertanian, peternakan, wisata, kerajinan).

4) Menetapkan 1–2 sektor prioritas yang akan dikembangkan oleh BUMDes.

Contoh: Desa dengan produksi singkong tinggi maka fokus pada industri olahan singkong.

2.   Reorientasi BUMDes sebagai Motor Ekonomi Desa

BUMDes dapat menjadi lembaga yang mengelola potensi ekonomi lokal dan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).

Langkah konkret:

1)  Melakukan audit sederhana usaha BUMDes (apa yang untung dan tidak).

2)  Menutup unit usaha yang tidak produktif.

3)  Membuka unit usaha berbasis potensi desa, misalnya: pengolahan hasil pertanian, toko desa atau marketplace produk lokal, penyewaan alat pertanian dan jasa logistik atau transport desa.

4)  Menyusun target PADes dari BUMDes setiap tahun.

Contoh: BUMDes membuka unit penggilingan padi + pemasaran beras desa.

3.   Membangun Rantai Nilai Produk Desa

Masalah utama desa adalah menjual produk dalam bentuk bahan mentah.

Langkah konkret:

1) Identifikasi produk lokal utama (misal kopi, padi, ikan, sayur).

2) Kembangkan produk olahan bernilai tambah.

3) Bentuk kelompok usaha desa.

4) BUMDes menjadi offtaker/pembeli utama produk warga.

Contoh:

· kopi → kopi bubuk kemasan

· pisang → keripik pisang

· susu → yogurt lokal

4.   Program Inkubasi Usaha Mikro Desa

BUMDes tidak harus menjalankan semua usaha sendiri.

Langkah konkret:

1) Desa membuat Program Inkubasi UMKM Desa.

2) Setiap tahun memilih 5–10 pelaku usaha lokal.

3) Desa memberikan pelatihan bisnis, bantuan alat produksi dan akses pasar melalui BUMDes.

4) BUMDes menjadi mitra pemasaran produk UMKM desa.

5.   Mengembangkan Ekosistem Ekonomi Desa

Pembangunan ekonomi desa tidak bisa berdiri sendiri.

Langkah konkret:

1)  Kerjasama dengan koperasi desa, kelompok tani, karang taruna, PKK dan kelompok masyarakat yang ada di desa

2)  Membentuk Forum Ekonomi Desa yang bertemu setiap 3 bulan. Forum ini membahas peluang pasar, kendala produksi dan peluang investasi desa.

6.   Digitalisasi Ekonomi Desa

Banyak desa memiliki produk bagus tetapi akses pasar terbatas.

Langkah konkret:

1)  Membuat katalog produk desa digital.

2)  Membuka akun marketplace desa.

3)  Karang Taruna menjadi tim pemasaran digital desa.

4)  Membuat branding produk desa.

7.   Kolaborasi Antar Desa

Tidak semua desa harus mengembangkan usaha sendiri.

Langkah konkret:

1.  Membentuk BUMDes Bersama (BUMDesMa) antar desa.

2.  Mengelola usaha skala kawasan, misalnya: wisata kawasan, pengolahan hasil pertanian, distribusi logistik desa.

Kolaborasi ini dapat memperluas skala ekonomi dan memperkuat daya saing desa.

 

Prinsip Penting Agar Strategi Ini Berhasil

Selanjutnya, agar strategi tersebut bisa berjalan dengan baik maka ada empat prinsip yang harus dipegang dan menjadi acuan, yaitu:

1. Fokus pada 1–2 sektor unggulan desa

2. BUMDes dikelola profesional (bukan proyek)

3. Masyarakat menjadi pelaku utama ekonomi desa

4. Pendamping desa berperan sebagai fasilitator inovasi

 

Dengan pendekatan ini, pembangunan desa tidak lagi sekadar menghabiskan anggaran tahunan, tetapi membangun mesin ekonomi desa yang berkelanjutan.

(bersambung…)


_______

Maghfuri Ridlwan 

Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat

Prov Jawa Timur





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Strategi Membangun Desa; “Pembangunan Berbasis Inisiatif” Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang dimuat pada 12 Mar...